Blog Tempatnya Mencari Ilmu dan Amal

Kamis, 30 Juni 2016

Asbabun Nuzul Surat Al-Waqi'ah

Advertisement
Asbabun Nuzul Surat Al Waqi'ah - Asbabun nuzul adalah sebab-sebab turunnya al-Qur'an; atau suatu peristiwa yang menggambarkan tentang sejarah turunnya al-Qur'an sesuai dengan situasi saat itu. Juga menetapkan hal ihwal kejadian-kejadian yang berlaku sekarang dan untuk masa yang akan datang.  Dalam hal ini, Ibnu Taimiyah berpendapat, "Bahwa mengetahui asbabun nuzul suatu ayat al-Qur'an dapat membantu kita memahami pesan-pesan yang dikandung dalam ayat-ayat al-Qur'an. Pengetahuan ihwal asbabun nuzul suatu ayat memberikan dasar yang kokoh dalam menyelami kandungan ayat tersebut."

Pandangan ini disadari oleh kaum muslimin yang ingin memahami pesan-pesan yang dikandung pada setiap ayat dalam al-Qur'an agar memahami betul tentang tempat, peristiwa, kisah-kisah, juga tujuan diturunkannya ayat-ayat al-Qur'an agar tidak mengalami keraguan dalam menafsirkan. Karena itu, jika seseorang ingin mempelajari tentang al-Qur'an secara detail maka is harus mengetahui tentang asbabun nuzul agar dalam menafsiri ayat-ayat dalam al-Qur'an sesuai dengan makna yang dikehendaki al-Qur'an.

Ada beberapa ulama yang mencoba menyusun asbabun nuzul, di antaranya adalah Ali bin al-Madani, beliau adalah guru al-Bukhari. Sesudah itu, ada al Wahidi dengan kitabnya Asbabun Nuzul. Kemudian, al Ja'bari, yang meringkas kitab al-Wahidi dengan membuang sanad-sanadnya. Kemudian tidak ketinggalan karangan Suyuthi yang berjudul Lubabul Maghulfi Asbabin Nuzul. Beberapa ulama tersebut, berkehendak memberikan ketegasan lebih detail tentang makna ayat-ayat melalui peristiwa atau kejadian juga seluk-beluk turunnya ayat-ayat al-Qur'an.

Di sini, ada ketegasan yang menjadi landasan atau dasar bagi para ulama dalam memahami tentang sanad atau rawi ketika mengetahui asbabun nuzul al-Qur'an yakni sahnya riwayat yang langsung dari Nabi atau dari para sahabatnya. Apabila dari sahabatnya, maka kisahnya harus terang sehingga tidak menimbulkan pendapat yang berbeda. Sebab, asbabun nuzul mengungkap tentang peristiwa turunnya al-Qur'an yang menyangkut maksud diturunkannya ayat al-Qur'an agar sesuai dengan makna yang sebenarnya.  Sebagai contoh dalam Surat alWaaqi'ah, misalnya: "Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. Diturunkan dari Rabbil `alamiin. Maka apakab kamu menganggap remeh saja al-Qur'an ini? Kamu mengganti rezeki (yang Allah berikan) dengan mendustakan Allah." (QS. al-Waaqi'ah: 79-82).

Dalam satu riwayat-yang saya kutip dari kitab Asbabun Nuzul menjelaskan, ketika turun hujan pada masa itu, Rasulullah Saw. bersabda: "Di antara manusia ada yang bersyukur dan ada yang kafir karena turun hujan."  Di antara yang hadir berkata, "Ini adalah rahmat yang diberikan oleh Allah untuk kita." Sedang yang lain berkata, "Sungguh tepat ramalan si anu."  Dari kisah ini maka turunlah ayat lain dalam Surat al-Waaqi'ah yang berbunyi:"Maka Aku bersumpah dengan masa turunnya bagian-bagian al-Qur'an. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui.Sesungguhnya al-Qur'an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh). " (QS. al-Waaqi'ah: 75-78).

Ayat di atas, tidak lain untuk mengingatkan kaum yang sesat; bahwa semua yang terjadi itu atas kehendak Allah. Manusia sama sekali tidak akan berdaya dengan segala kehendak yang terjadi, baik sekarang maupun yang akan datang. (Diriwayatkan oleh Muslim yang bersumber dari Ibnu Abbas). Kemudian dalam riwayat lain juga dijelaskan, bahwa ayat 75-82 dalam Surat al-Waaqi'ah turun berkenaan dengan serombongan kaum Anshar waktu Perang Tabuk yang beristirahat di Hijr (peninggalan kaum Shalih As.).  Mereka dilarang menggunakan air yang ada di situ. Kemudian mereka pindah ke tempat lain, tetapi tidak mendapatkan air sama sekali. Mereka mengadukan hal itu kepada Nabi Saw. yang kemudian Rasulullah Saw. pun melakukan shalat dua rakaat dan berdoa.


Baca Dulu:
Surat Al Waqiah dan Terjemahannya 

Dari doa Nabi, kemudian langit terlihat mendung, lalu hujan mengguyur bumi atas perintah dan karunia Allah, sehingga mereka pun dapat minum sepuas-puasnya. Seorang Anshar berkata kepada seorang yang dituduh munafik, "Bagaimana pendapatmu setelah Nabi Saw. berdoa dan turun hujan untuk kepentingan kita?" Orang itu menjawab, "Kita diberi hujan tidak lain karena ramalan seseorang." Dari kemunafikan itu, kemudian Allah menurunkan ayat di atas untuk mengingatkan umat Islam bahwa segala sesuatu itu ditetapkan oleh Allah Swt. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Abu Hazrah).

Kemudian dalam Surat al-Waaqi'ah tepatnya dalam ayat 27-29: "Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu, berada di antara potion bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya). " (QS. al-Waaqi'ah: 27-29).  Ayat tersebut diriwayatkan, setelah Rasulullah membolehkan orang-orang Tha'if untuk menguasai lembah indah yang bersarang madu. Mereka mendapat kabar  bahwa di surga, tempatnya seperti lembah itu, sehingga dari sebagian mereka berangan-angan ingin mendapatkan surga untuk dijadikan tempat abadinya. Maka, dari sinilah kemudian turun ayat 27-29 yang melukiskan kehidupan di Surga Na'im yang disediakan bagi golongan kanan. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Urwah bin Ruwaim, tetapi mursal alias masih diragukan. Dan, diriwayatkan pula oleh Sa'id bin Manshur di dalam sunannya dan al-Baihaqi di dalam kitab al-Ba'ts yang bersumber dari `Atha' dan Mujahid).

Dalam riwayat lain juga dijelaskan, bahwa orang-orang kagum melihat lembah yang teduh yang dinaungi pohon-pohon yang rindang dan indah. Ayat ini (QS. al-Waaqi'ah ayat 14) turun melukiskan kehidupan di surga yang serba indah dan menyenangka
Advertisement
Facebook Twitter Google+
Back To Top