Blog Tempatnya Mencari Ilmu dan Amal

Jumat, 01 Januari 2016

SAMBUTAN PENDUDUK YATHRIB (MADINAH) TERHADAP NABI MUHAMMAD SAW

Advertisement
SAMBUTAN PENDUDUK YATHRIB TERHADAP NABI MUHAMMAD SAW - Berbondong-bondong penduduk  Yathrib  ke  luar  rumah  hendak menyambut   kedatangan Muhammad,  pria  dan  wanita.  Mereka berangkat setelah tersiar berita  tentang  hijrahnya,  tentang Quraisy yang hendak membunuhnya, tentang ketabahannya menempuh panas  yang  begitu  membakar  dalam  perjalanan  yang  sangat meletihkan,   mengarungi   bukit  pasir  dan  batu  karang  di tengah-tengah dataran Tihama, yang  justru  memantulkan  sinar matahari  yang  panas  dan  membakar itu. Mereka keluar karena terdorong ingin mengetahui sekitar  berita  tentang  ajakannya yang  sudah  tersiar  di seluruh jazirah. Ajakan ini juga yang sudah mengikis kepercayaan-kepercayaan lama yang diwarisi dari nenek-moyang mereka, yang sudah dianggap begitu suci. Unta yang  dinaiki  Nabi  alaihi  ssalam  berlutut  di  tempat penjemuran kurma milik Sahl dan Suhail b. Amr. Kemudian tempat itu dibelinya guna dipakai tempat membangun mesjid dan tempat tinggalnya.  

Selesai  Muhammad  membangun  mesjid  dan  tempat-tinggal,  ia pindah dari rumah Abu Ayyub ke tempat ini.  Sekarang  terpikir olehnya  akan adanya hidup baru yang harus dimulai, yang telah membawanya dan membawa dakwahnya itu harus  menginjak  langkah baru  lebih  lebar.  Ia melihat  adanya suku-suku yang salingbertentangan dalam kota ini, yang oleh  Mekah  tidak  dikenal. Tapi   juga  ia  melihat  kabilah-kabilah  dan  suku-suku  itu semuanya merindukan adanya suatu kehidupan damai dan tenteram, jauh  dari  segala  pertentangan dan kebencian, yang pada masa lampau telah  memecah-belah  mereka.  Kota  ini  akan  membawa ketenteraman  pada masa yang akan datang, yang diharapkan akan lebih kaya dan lebih terpandang daripada Mekah.  Akan  tetapi, bukanlah  kekayaan  dan  kehormatan  Yathrib  itu yang menjadi tujuan Muhammad yang pertama, sekalipun ini ada  juga.  Segala tujuan  dan  daya-upaya, yang pertama dan yang terakhir, ialah meneruskan risalah,  yang  penyampaiannya  telah  dipercayakan Tuhan  kepadanya,  dengan  mengajak dan memberikan peringatan. Akan  tetapi  Hanya  kebebasanlah yang   akan   menjamin   dunia   ini  mencapai  kebenaran  dan kemajuannya dalam menuju kesatuan yang integral dan terhormat. Setiap tindakan   menentang   kebebasan  berarti  memperkuat kebatilan, berarti menyebarkan kegelapan  yang  akhirnya  akan mengikis habis percikan cahaya yang berkedip dalam hati nurani manusia. Percikan cahaya  ini  yang  akan  menghubungkan  hati nurani  manusia  dengan alam semesta ini, dari awal yang azali sampai pada akhirnya yang abadi, suatu hubungan yang  menjalin rasa  kasih  sayang  dan  persatuan,  bukan rasa kebencian dan kehancuran.

Dengan pemikiran inilah wahyu itu disampaikan kepada  Muhammad sejak  ia  hijrah.  Dan  karena itu pula ia sangat mendambakan perdamaian, dan tidak menyukai perang. Dalam  hal  ini  selama hidupnya ia sangat cermat sekali. Ia tidak menempuh jalan itu, kalau tidak terpaksa karena membela kebebasan,  membela  agama dan  kepercayaan.  Bukankah,  ketika  mendengar  ada mata-mata memanggil-manggil Quraisy, memberi peringatan  tentang  merekaitu,  penduduk  Yathrib yang ikut mengadakan Ikrar Aqaba kedua berkata kepadanya? "Demi Allah yang telah  mengutus  tuan  atas  dasar  kebenaran kalau  sekiranya  tuan sudi, penduduk Mina itu besok akan kami habiskan dengan pedang kami." Dijawabnya:  "Kami tidak diperintahkan untuk itu." Bukankah ayat pertama yang datang mengenai perang berbunyi? "Diijinkan (berperang) kepada mereka  yang  diperangi,  karena mereka  dianiaya;  dan  sesungguhnya Allah Maha kuasa menolong mereka." (Qur'an, 8: 39) Dan bukankah ayat berikutnya mengenai soal  perang  itu  Tuhan berfirman? "Dan  perangilah  mereka  supaya  jangan  ada lagi fitnah, dan agama seluruhnya untuk Allah." (Qur'an, 2: 193)

Jadi  pertimbangan  pikiran  Muhammad  dalam  hal  ini   hanya mempunyai  satu  tujuan  yang  luhur, yaitu menjamin kebebasan beragama dan menyatakan pendapat. Hanya  untuk  mempertahankan itulah  perang dibenarkan, dan hanya untuk itu pula dibenarkan menangkis serangan pihak agresor, sehingga  jangan  ada  orang yang  dapat  dikacau  dari  agamanya dan jangan pula ada orang yang ditindas karena kepercayaan atau pendapatnya.

Kalau inilah tujuan Muhammad  dalam  pertimbangannya  mengenai masalah  Yathrib  serta  harus menjamin adanya kebebasan, maka penduduk kota ini pun menyambutnya dalam pikiran yang  serupa, meskipun  setiap  golongan pertimbangannya saling bertentangan satu sama lain. Penduduk Yathrib pada waktu itu  terdiri  dari kaum  Muslimin  -  Muhajirin  dan Anshar - orang-orang musyrikdari  sisa-sisa  Aus  dan  Khazraj  -  sedang  hubungan  kedua golongan   ini   sudah   sama-sama   kita   ketahui;  kemudian orang-orang  Yahudi:  Banu  Qainuqa  di  sebelah  dalam,  Banu Quraiza  di  Fadak,  Banu'n-Nadzir  tidak  jauh  dari sana dan Yahudi Khaibar di Utara.

Ada pun kaum Muhajirin dan Anshar,  karena  solidaritas  agama baru itu, mereka sudah erat sekali bersatu. Sungguhpun begitu, kekuatiran  dalam  hati  Muhammad  belum  hilang   samasekali, kalau-kalau suatu waktu kebencian lama di kalangan mereka akan kembali  timbul.  Sekarang  terpikir  olehnya   bahwa   setiap keraguan  semacam itu harus dihilangkan. Usaha ini akan tampak juga pengaruhnya Sebaliknya golongan musyrik dari sisa-sisa  Aus  dan  Khazraj, akibat  peperangan-peperangan masa lampau, mereka merasa lemah sekali di tengah-tengah kaum Muslimin dan Yahudi  itu.  Mereka mencari  jalan  supaya  antara  keduanya  itu  timbul insiden. Selanjutnya golongan Yahudi dengan tiada  ragu-ragu  merekapun menyambut  baik kedatangan Muhammad dengan dugaan bahwa mereka akan dapat membujuknya dan  sekaligus  merangkulnya  ke  pihak mereka,  serta  dapat pula diminta bantuannya membentuk sebuah jazirah  Arab.  Dengan  demikian  mereka   akan   dapat   pula membendung   Kristen,  yang  telah  mengusir  Yahudi,  -bangsa pilihan Tuhan - dari  Palestina,  Tanah  yang  Dijanjikan  dan tanah air mereka itu. Dengan  dasar  pikiran  itulah  mereka masing-masing bertolak. Mereka membukakan jalan  supaya  tujuan  mereka  masing-masing mudah tercapai.
Advertisement
Facebook Twitter Google+
Back To Top